Teruntuk teman teman dan pemirsa website kami, yang belum sempat beli bukunya atau belum baca dari bukunya langsung, silakan kalau mau baca. Kenalan dulu yaaa… 🙂 ini di halaman sessi perkenalan dari buku antologi “ada cerita di balik pandemi”

Konnichiwa,

Sejak 2001 saya mulai mengajar Bahasa Jepang di SMK pariwisata negeri di Jakarta Selatan, nama tenar saya “Aning Sensei”. Waktu itu saya masih semester 7 di Universitas Darma Persada Fakultas Sastra Jepang, yang kemudian lulus di tahun 2003 dengan gelar Sarjana Sastra, menambah panjang nama lengkap saya : Setyaning Yudi Puji Lestari, S.S. 40 tahun silam ibu saya melahirkan anak pertamanya ini di Madiun, kota kelahiran beliau dan juga ayah saya. Tempat tinggal nenek kakek saya, dari pihak ayah dan ibu. Tanah air nenek moyang. Kulo asli Wong Mediun. 5 Mei 1980, saya dilahirkan saat ayah saya ditugaskan di Timor Timur sebagai prajurit negara. Sebagai istri tentara Marinir Angkatan Laut, ibu saya harus tegar dan sabar, melahirkan tanpa didampingi suami, dan baru bisa bertemu berbulan bulan ke depan. Selanjutnyapun, masa berkembang dan pendidikan saya terwarnai dengan ayah yang tegas dan ibu yang tegar.

Di tahun yang sama dengan kelulusan, saya juga lolos seleksi alam dari single menjadi punya pasangan hidup. Resmi menikah di bulan Desember 2003 bersama seorang sholih baikbudi di mata saya dan keluarga, lulusan Universitas Indonesia Fakultas MIPA jurusan Matematika yang profesinya di jalur Informasi Teknologi. Beliau berdarah Sunda, lahir dan besar di Tangerang. Menghabiskan masa kuliahnya dengan tinggal kost di Depok. Kota ini pula yang dia pilih untuk membawa saya dan anak-anak kami berdomisili sejak tahun 2008. Sebelumnya, kami tinggal di rumah kontrakan milik ayah saya, sambil kami menabung untuk punya rumah sendiri. Anak pertama dan ke-dua, lahir di sana, Cipedak Jagakarsa Jak-Sel. Tak terasa 12 tahun sudah kami tinggal di Tanah Baru, Beji, Depok, dengan lahir anak ke-tiga dan ke-empat. Di tahun ini pula, alhamdulillaah rumah yang kami tempati ini lunas terbayar, lebih cepat 8 tahun dari yang kami rencanakan bersama KPR BANK.

Pelunasan lebih cepat ini, tidak terlepas dari kerja keras kami mengumpulkan pundi mata uang. 5 tahun belakangan ini saya merambah profesi baru selain sebagai guru Bahasa Jepang. Profesi yang sebelumnya tak terpikirkan oleh saya, namun sejalan dengan harapan besar saya saat memilih jurusan Bahasa Jepang. Mau tinggal di Jepang atau bolak balik ke Jepang. Belasan tahun kemudian, harapan ini menjadi kenyataan. Freelance tour leader, membawa saya bisa bolak balik Jepang dan keliling dunia, Masya Allah !

Berawal di tahun 2014, pertama kalinya saya bertugas menjadi guru pendamping siswa private ke Kobe, Jepang. Saat itu tugas saya sangat ringan, karena semuanya di atur oleh sekolah bahasa yang mengundang. Selanjutnya di tahun 2015, ada 2 grup yang minta saya untuk mengatur perjalanan ke Jepang. April 2015, family vacation. September 2015, mahasiswa backpacker sambal belajar Bahasa dan  Budaya Jepang. Berlanjut di tahun 2016, meski saat itu saya dianugerahi kehamilan anak ke-4, beberapa grup yang memang sudah terjadwal tripnya, sudah punya tiket pesawatnya, berjalan lancar, dan saya melahirkan dengan selamat sentosa di bulan September 2016. Sekitar 5 grup ke Jepang di tahun 2016. Januari 2017, saya memutuskan mengundurkan diri dari guru Bahasa Jepang SMK Negeri, dengan anak 4 dan suami yang semakin sibuk tugas ke daerah di penjuru Indonesia sebagai ASN. Sejak 2017 itulah, saya berbagi jadwal dengan suami. Beliau jelajah Indonesia, saya jelajah Jepang. Sebisa saya bawa serta anak anak, saya ajak mereka. Saat meeting dengan klien, saat belanja, saat antar tamu, saat urus ke bandara, anak anak saya ajak serta. Bahkan saat ke Jepang pun, tugas yang bisa saya ajak mereka, saya turutkan mereka terbang bersama saya. Alhamdulillaah, ke-4 anak saya sudah menginjakkan kaki di Negeri Doraemon meski berbeda waktu masing masingnya. Sambil ke Jepang, saya bisa transit di Malaysia, Singapore, Vietnam, Thailand, Philippines, Brunei Darussalam, Hongkong. Di tahun 2018, Alhamdulillaah wa syukurillah, saya bisa berangkat umroh plus middle east, menyusuri sejarah jejak para nabi sambil ziarah di Arab Saudi, Jordania, Palestina, Mesir, hingga Turki. Di tahun ini pula, lahir TripPackers+ besutan suami dan saya. Saya mulai membentuk tim dan mengkader mereka. Mengajarkan arrange budgeting hingga bawa grup ke Jepang. Rerata saya merekrut pengajar/pembelajar Bahasa Jepang. Alhamdulillaah rekanan Travel Agent mulai banyak yang mempercayakan saya dan kami bekerjasama. Sayapun bergabung di asosiasi profesi ITLA  Indonesian Tour Leader Association, dan ikut sertifikasi Tour Leader di tahun 2019. Di Januari tahun 2020, saya berkesempatan ikut Europe Tutorial Field Trip, suatu program ITLA. Selama 12 hari kami belajar sambil jelajah Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, Liechtenstein, Switzerland, Italy, Vatikan dengan transit di Dubai, Uni Emirat Arab. Setelah tiba di tanah air, mulai ramailah kasus Covid19.

Sebelum lockdown seluruh dunia di Maret 2020, saya sempat dua kali bawa private group ke Jepang di Februari. Hingga kini 4 bulan sudah kita semua stay at home, saya pun ikutan kaum rebahan di rumah dan bisnis travel pun tiarap. Semoga sementara mati suri ini segera hidup menggeliat kembali. Kita bisa mengumpulkan pundi mata uang lagi, masih banyak mimpi yang mau di realisasi, membahagiakan banyak orang dengan memberi. Oleh oleh luar negeri saya mulai menipis, recehan yen saya mulai mengikis, tiap hari melihatnya saya sampai meringis, tapi kita bertahan tetap berjuang tidak menangis,

Ganbarimashou !

Untuk baca lebih lanjut ceritaku, ke link ini yaa : https://trippackersplus.com/di-tengah-2020-menulis-demi-pandemi-demikianlah/

@SYPL

Leave a Reply