Masa rebahan di rumah, alhamdulillaah masih bisa berkarya dan terus belajar. Salah satunya, keluar buku menulis rame rame bertajuk “Ada Cerita Di Balik Pandemi”. Dan saya mengambil judul ini :

Demi Pandemi, demikianlah …

Kami berjuang. Mengurangi banyak kegiatan di luar rumah, sehari hari berjam-jam just stay at home, menjaga jarak antar sesama manusia, senantiasa bebersih tangan dengan sabun atau hand sanitizer, rajin mandi setiap habis dari bepergian keluar rumah. Harus jaga imunitas, tetap bahagia dan berhati hati untuk menyentuh sesuatu, makan sesuatu. Untuk tidak curiga?

Akhir Januari 2020, dunia ramai dengan kabar tersebarnya new corona virus penyebab penyakit Covid-19, dari Wuhan ke beberapa negara maju. Sang virus baru itu terbang terbawa oleh manusia yang terinfeksi, sadar ataupun tidak, dengan gejala ataupun tanpa tanda apapun. Aneka kebijakan negara tersebut bermunculan, saat itu Indonesia masih mentertawakan, “tak mempan virus baru itu di negeri panas yang cetar. Rakyatnya mumpuni dengan aneka ramuan herbal. Mentalnya biasa melawan segala yang mainstream. Masyarakat anti mainstream. Saat itu, saya dan teman teman se-profesi Tour Leader yang tergabung dalam program  Europe Tutorial Field Trip baru saja pulang dari keliling Eropa Barat, bertolak dari Bandara Fiumicino, Roma, Italia. Negara yg kemudian mengklaim laksana kuburan massal karena banyak warganya yg wafat akibat penyakit baru Covid-19, tertinggi di dunia setelah Wuhan itu sendiri.

“Februari ini ada dua grup trip ke Jepang yang harus dijalankan..”, resahku. Jepang termasuk negara red zone kala itu. Karena wilayahnya berdekatan dengan China, menjadikan Jepang termasuk negara pertama yang mengkonfirmasi adanya kasus infeksi virus corona, selain China, Prancis, Australia, Malaysia, Nepal, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Amerika dan Vietnam. Keresahan ini tidak hanya menghantuiku, suami dan peserta trip juga menanyakan apakah bisa kita ganti hari, reschedule.

“Coba diskusikan lagi dengan peserta trip nya, apa bisa di undur?”, suamiku memberi saran.  

“Lha wong mereka juga maunya mundur hari lho, bi. Tapi tiketnya yg ga bisa mundur. Ini tiket JAL promo, harga 5juta sudah PP tapi ga bisa reschedule juga refund. Tapi ini kan yg berangkat sahabat sahabatku ahli kesehatan. Satunya dokter, master pula. Satunya lagi lulusan FKM, paham banget dah soal kesehatan masyarakat. Insya allaah mereka bisa jaga diri dan jaga aku”, terangku, terlihat semangat.  Padahal aku juga perlu tenaga extra untuk meyakinkan ke genk trip ku kali ini bahwa kita sebaiknya tetap berangkat. Satunya membawa anaknya semua, 4 orang. Satunya lagi meninggalkan semua anaknya di rumah, 4 orang. Sama seperti ku. Ini keputusan tersulit sepanjang aku jadi Tour Leader 5 tahun belakangan ini. Membawa anak anak ke daerah wabah penyakit baru dan meninggalkan anak anakku di tengah isu wabah yang bergerak mendunia, tak bisa dipungkiri, juga akan menghampiri Indonesia. Diskusi kami di whatssapp group lumayan alot maju mundur. Padahal keberangkatan tinggal hitungan hari. Februari 4, 2020 kami harus terbang, kalau tidak mau hangus tiket dan uang penginapan.

Untungnya, perjalanan ini adalah reunion trip atas persahabatan kami sejak SMA kelas 1. Masing masing dari kami sudah mengenal dalam tiap karakter terpendam. Akhirnya diputuskan, kami terbang dengan segala aneka bawaan kesehatan. Masker waktu itu mulai mahal dan hand sanitizer langka di pasaran. Alhamdulillaah masih bisa bawa masker N95 yang high quality punya. Belakangan ku ketahui kalau itu adalah khusus untuk para dokter beraksi di ruang operasi. Berbagai herbal, minuman dan vitamin C juga menemani perjalanan kami, setia dalam tas yang kami bawa kemanapun pergi. Alhamdulillaah, dinginnya musim salju berhasil kami taklukkan. 7 hari kami setiap hari naik turun bus dan kereta, dari Festival Sakura hingga Gunung Fuji yang semakin dingin, bahkan menginap juga di Shirakawago, lembah yang kala itu ditutupi salju tebal, dan konon menjadi salah satu spot wisata yang red zone sebagai ajang penularan virus new corona. Tak heran, karena turis dari berbagai wilayah Jepang, China dan negara lainnya, tidak akan melewatkan berkunjung ke desa tradisional Jepang kuno, kampung yang tercatat sebagai  warisan sejarah dunia, World Heritage. Bagi turis Indonesia, jelajah Jepang terasa kurang sah kalau belum berkunjung ke Shirakawago. So, aku lumayan kebat kebit juga waktu singgah masuk ke perkampungan putih penuh salju ini, mana saat itu hujan salju cukup lebat. Akhirnya, anak anak banyak menunggu saja di dalam salah satu rumah yang menyediakan minuman makanan tradisional Jepang, hingga waktu pulang ke bus, kembali ke penginapan. Selama kami di Jepang, banyak pesan dari teman teman yang mengingatkan, baik melalui komen media sosial maupun japri ke HP, untuk hati hati bergerak dan jaga jarak. Apalagi teman teman yang memang tinggal di Jepang. Mereka sangat khawatir, bukan karena tidak percaya padaku, tetapi karena aku membawa orang yang tidak biasa dengan situasi dan kondisi Jepang kekinian. Jujur, aku juga khawatir. Alhamdulillaah, grup ini kembali ke Indonesia dengan sehat dan selamat.

Namun, aku harus kembali lagi ke Jepang. Pekan terakhir di Februari, jumlah wilayah di Jepang yang terinfeksi New Corona Virus makin bertambah. Aku kembali berkubang dalam kekhawatiran, membawa 3 emak genk traveler dan di sela sela itu, part time menjadi pemandu bagi 1 keluarga yang membawa bayi 8 bulan. Whoaah, nekat ! Tetapi sang ayah adalah pegawai kantor Jepang yang cabangnya di Cikarang, sudah beberapa kali bolak balik Jepang, sedangkan sang ibu adalah anak blasteran Indonesia-Jepang. Mereka hanya butuh ditemani keliling Tokyo dan Fujisan dalam 3 hari dan sudah paham untuk senantiasa bermasker, cuci tangan, jaga jarak, sedangkan aku dan genk emak traveler berada di Jepang selama 7 hari. Akhir Februari masih sangat dingin, meski salju tidak terlalu putih menumpuk di Shirakawago. Beberapa obyek wisata mulai sepi pengunjung. Travel warning di mana mana. Puncaknya ketika kami di Kyoto, kuil 1000 gerbang Fushimi Inari yang biasanya ramai turis, kali ini senyap. Tulisan di beberapa sudut terkait peringatan “awas corona !” makin meresahkan hati kami, hingga ke Osaka. Jadwal sore yang harusnya belanja di Shinsaibashi, menjadi sesi merinding di meja makan Café Bintang setelah kami makan siang nasi telor dadar kecap, mie ayam bakso, ayam bakar, nasi goreng yang diimpikan sejak 5 hari ngebolang di Jepang. Kami membicarakan update terkini gentayangannya virus corona baru ini dari info di  aneka whatssap group, bahkan sampai membuat ter-cancel-nya berbagai grup umroh dan ditutupnya akses keluar masuk di sejumlah negara. Helloo, we’re still in Osaka, Now ! bijimane kite pulang ke kampung Depok nih sodare sodare?!  

Malam itu kami balik ke Tokyo via bus malam. Tenggorokanku gatal. Mulai parno. Minum aneka herbal dan vitamin. Pagi hari tiba di Haneda, 3 travel mate ku akan terbang duluan pulang ke Tanah Air. Seharusnya aku masih ada 1 hari tugas mendampingi 1 keluarga ke Museum Doraemon, Asakusa, Odaiba, oleh karenanya aku membeli tiket pulangnya di malam hari. Nyatanya, ke-parno-an ku sudah telanjur menyergap. Aku memutuskan untuk tetap stay di Haneda airport dan mencoba meminta penerbanganku dimajukan lebih cepat, ikut flight siang atau sore. Tugas guiding ku alihkan ke yunior ku di Akihabara, meminta dia untuk menemani 1 keluarga itu. Alhamdulillah, dapat guide pengganti yang cocok untuk keluarga, sayangnya penerbanganku tidak bisa di reschedule. Dengan amat manis mba petugasnya menenangkan, “don’t worry, everything just fine. Just stay with your mask and keep distancing” waktu aku memaparkan bagaimana kalau nanti ada penutupan akses tidak boleh keluar Jepang. Meski saat itu petugas bandara Haneda mentertawakan pertanyaan konyolku, namun beberapa pekan kemudian benar nyatanya, akses keluar masuk Jepang di tutup. Dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam, aku menunggu untuk terbang pulang. Membunuh bosan dengan keliling dari toko ke toko, tapi Haneda Airport tidaklah sebesar Narita Airport. Perbandingannya macam HalimPerdanakusumah Airport dengan SoekarnoHatta Airport. Di tambah batuk yg sesekali muncul. Tak henti aku minum air hangat terus, sengaja ku duduk dekat toilet bandara Jepang yang terkenal hi-tech dan bersih serta komplit fasilitasnya. Dalam penantian pulang.

Terbang ku tak terasa, tidur lelap di langit dunia. Jelang subuh sudah mendarat dengan selamat di Indonesia tercinta. Lepas subuh, suami dan anak anak yang menjemputku mengajak sarapan. Bubur ayam menjadi idaman. Sesampai di rumah, aku istirahat total di kamar. Gatal di tenggorokan ini harus binasa. Batuk ini harus hilang. Saat itu belum tenar yang namanya titel PDP, ODP, OTG, tetapi sudah ada aturan karantina bagi yang kena sensor suhu tubuh di atas 37 derajat. Suhu tubuhku aman, tidak ada demam, tidak nampak batuknya, lolos aku dari pemeriksaan bandara, 29 Februari 2020. Andai aku pulang 2 pekan lagi, mungkin lain ceritanya. Harus rapid test lah, atau di swab lah, dan berujung harus  mampir di Wisma Atlit sebagai tahanan karantina 14 hari untuk mematikan virus yang diduga terbawa oleh orang yg pulang dari negara pandemi. Karena beberapa hari setelah aku berdiam mengurung diri di rumah, Presiden Indonesia mengumumkan pasien pertama yang dinobatkan penderita covid-19, rumahnya di Depok. Sama dengan ku, warga Depok.

Maret itu menjadi bulan menegangkan buatku. Aneka berita seliweran di whatssapp group. Aku yang aktif di dunia pariwisata, baca dan lihat betapa banyak ambruk agenda per-travel-an dunia. Beberapa grup ku yang harusnya berangkat di Maret hingga Agustus, harus mundur. Ada negara yang tidak bisa kami mundur, tapi harus batal karena menolak adanya turis masuk ke negaranya. Reschedule dan refund, atau hangus tiket tidak boleh di reschedule tidak bisa di refund. Meeting dan menegangkan. Aku yang juga aktif di whatssapp group dunia pendidikan, baca dan menyaksikan perubahan pola belajar mengajar di dunia. Anakku yang mondok di asrama pesantren, dipulangkan bersama semua santri lainnya. Anakku yang sekolah sehari hari, diliburkan untuk datang ke sekolah. Semua belajar online dari rumah. Anak 4 semua kumpul di rumah mungil yang hanya punya 2 kamar tidur. Eh, bapaknya juga dirumahkan, work from home. Dan aku harus mengasingkan diri di rumah, berjemur sinar matahari, membangun imunitas tinggi, mengalahkan serangan virus jika benar dia hadir dalam tubuh. Mantap !

Tenggorokanku sudah tidak gatal. Batukpun lenyap. Alhamdulillaah, sebulan sudah pasca pulang akhir Februari dari Jepang. Tapi kenapa nafasku kadang sesak? Baca sana sini, konsul sana sini termasuk ke sahabat trip waktu di awal Februari yang orang kesehatan. Katanya, itu Psikosomatik. Suatu fenomena di mana seseorang mengalami sensasi fisik, seperti sakit fisik, yang disebabkan oleh pikiran. Aku di minta untuk mengurangi asupan informasi aneka berita negatif yang dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan. Kalau sudah telanjur mengkonsumsi itu semua, aku di minta melakukan hal sederhana seperti relaksasi dan latihan olah nafas. Membiasakan pikiran tetap tenang dan mengajak pikiran kritis untuk memaknai kembali apa yang ku lihat dan baca dengan lebih  baik, pikirkan dengan sudut pandang yang berbeda dan menenangkan diri. Maka untuk meraih ketenangan dan kebahagian guna memperkuat sistem imun, kerjaan sehari hari ku di dapur, kasur, sumur dan berbagi syukur. Kirim kirim hasil olahan dapur untuk tetangga atau handai taulan. Membagi sedikit rupiah yang masih tersisa untuk ikutan program sedekah dan semacamnya. Memberi bantuan atau hadiah untuk orang lain semoga membahagiakannya, dan dengan begitu akan membahagiakan kita juga. Laptop tak ku sentuh berminggu minggu, website trippackersplus.com ku tak ter-update. Jadi malas utak atik dunia per-travel-an kecuali bantu para klien untuk reschedule atau refund tiket. Semua hanya pakai HP saja, one touch hand. Termasuk minta maaf saat tiket pun harus direlakan hangus. Good bye, tiket ke India !

Olah kreasi di dapur membuatku menikmati school from home dan work from home nya kami ber-6 sehari hari di dalam rumah. Indonesia sudah ikut dalam arus pandemi global. Tempatku tinggal di kelir warna merah. Mbok Yem yang biasanya pulang pergi kerja di rumah membantu urusan domestikpun terpaksa dirumahkan, karena dia tinggal di rumah ibuku yang berjarak sekitar 10-15 menit via motor. Otomatis, kerjaan rumah 100% kami kerjakan gotong royong di tengah semua agenda yang serba online. Dunia maya penuh sesak, jaringan kadang antri untuk meraih sinyal kehidupan persambungan. Dan akupun menemukan keasyikan ala masa lalu. Jualan makanan dan mengajar, tentu saja online. Sejatinya, jiwa ku adalah pendidik, hobi juga mengajar dan berdagang. Sejak zaman sekolah dulu keseharianku adalah menjajakan jualan, PD aja nawar nawari barang. Jiwa mengajar pun ku dapat dari komunitas pengajian sekolah, di mana kakak kelas harus mengajar adik kelasnya. Di masa pandemi yang segalanya dirumahkan, berdagang dan mengajarpun ku jadikan pengisi keseharian. Awalnya produk andalan buatan sendiri yang telah menjadi penganan favorit keluarga menjadi pilihan untuk dipasarkan. Bahkan kami open reseller, berbagi keuntungan di tengah pandemi. Takoyaki, penganan khas Jepang. Anak kedua yang hobi makan dan olah makanan dinobatkan sebagai Takoyaki Boy. Dia yang bertugas menyulap bahan baku menjadi takoyaki yang enak dinikmati. Abangnya bagian pencatatan keuangan karena sudah sibuk dengan target harian dari pondok pesantren yang setiap hari ada kelas online. Aku dan bapaknya anak anak menjadi penyuplai bahan baku dan cari pembeli atau reseller.  Rejeki tawaran reseller produk kemasan datang dari seorang boss travel umroh/haji baik hati yang group Jepang nya pernah dipercayakan kepadaku. Produk andalannya adalah instant Arabic rice. Awalnya ku coba tawarkan saja di beberapa whatssapp group, alhamdulillaah ada saja satu dua orang yang beli. Pengiriman semua dari kantor beliau di Bekasi. Pertengahan Ramadhan – Lebaran dihiasi dengan menawari nasi arab instan dan lumayan laku dapat pembeli, hingga akhirnya atas kebaikan beliau, aku dipercaya untuk jadi agen di Depok. Total penjualanku hingga bulan Juli ini sudah lebih dari 1000 pack, terkirim hingga ke Indonesia timur, dengan beberapa orang tim reseller. Di bulan ini pula pertama kali aku menggelar virtual tour dengan tajuk NgeBolang Tokyo via DuMay bersama tim TripPackers+ yang ku pimpin. Konsep infaq seikhlasnya bagi peserta yang mau ikutan menyimak ku harap tidak memberatkan. Alhamdulillaah hasil saweran infaq dari edisi perdana ini terkumpul 700ribuan rupiah, sebagian kami salurkan ikut menyumbang untuk korban terdampak ekonomi sulit. Peserta virtual tour yang kami bidik untuk sementara ini adalah para siswa NihonGo Online yang ku buat programnya sebagai pengisi liburan sekolah. Tak di sangka, program NihonGo Online Holiday sampai terbentuk 5 grup dengan free trial 5 kali pertemuan. Meski tidak semuanya aktif, ada yang rajin hadir online ada yang hanya 1-2 kali. Oleh karenanya kami berikan e-certificate untuk siswa yang rajin hadir online dan setor tugas. Semoga banyak yang masih mau belajar lanjut ke program NihonGo Online Private, belajar rutin Bahasa Jepang sepekan sekali via dunia maya.

Sebelumnya, di bulan April pra Ramadhan aku juga sudah mencoba mengajar kelas online di sebuah SMK kesehatan di Depok, membantu teman sesama guru Bahasa Jepang yang cuti melahirkan. Berlanjut selama Ramadhan membersamai mereka dalam kegiatan amaliyah Ramadhan. Masya allaah, pengalaman Ramadhan di tengah pandemi ini antara haru dan sedih bercampur bangga dan kecewa. Kami tidak bisa mengadakan ibadah seperti Ramadhan biasanya. Pesantren kilat yang biasanya selalu di buat oleh sekolah sekolah, menjadi sanlat online. Ibadah yang biasanya dilakukan ke masjid dilakukan semua di rumah. Beruntung kami punya anak yang santri pesantren tahfidz. Setiap hari harus setor hafalannya minimal 2 juz. Target khatam tilawah Al Qur’annya 5 kali. Alhamdulillaah tercapai, dan aku pun kebagian berkahnya. Pertama kali dalam hidupku bisa 3 kali khatam tilawah Al Qur’an di bulan Ramadhan. Thanks to Pandemi !

Rasanya tak pantas menggugat marah atas apa yang terjadi di muka bumi. Bukankah pandemi global ini juga bagian dari takdir dan ketetapan-NYA. Tugas kita hanya taat, dan berusaha berbuat baik sepanjang hayat, selama nafas masih di kandung badan. Demikianlah pandemi corona mengajarkan.

Demi pandemi, sekarang kita begini ..  

@SYPL

Leave a Reply