Tulisan ini mengenang perjalanan tahun lalu di April 2018, pasca umroh bersama komunitas umroh backpacker Kafilah Akbar dan lanjut middle east tour nya My Vacation, dengan tour leader yang sama : Fauzan Shiddiq. Sebagai peserta yang kerjaannya juga tour leader, sering juga tanpa sadar jadi bantu bantu jamaah nya Mas Fauzan, semisal yang belanja, yang ke kamar kecil, yang anter nyusul ke suatu tempat, nemenin jalan or ambil makanan. Malah karena bebantu itu aku nya telat kena omel sang TL. Ku jelaskan juga sih ke Om TL nya kenapa telat, eh beliaunya malah godain “waah, strong dong niiih”, hahaha. Lain kali kalau jadi peserta, nikmati saja jadi peserta ya, hehehe. Semoga lain waktu bisa kembali lagi ke Negeri Sultan Al Fatih baik bertugas sebagai tour leader maupun jalan sebagai traveler sendiri, semoga ada takdir menjenguk anak yang lagi sekolah atau tugas di Turki. Aamiin yaa Rabb ….

Masjid sultan ahmet atau dikenal juga blue mosque

Hari pertama begitu landing, kami disambut oleh local guide wanita yang pandai berbahasa indonesia, Emine namanya. Kami naik bus, dan tujuan pertama ke OLD CITY ISTANBUL, menyusuri kota tua di balik benteng kokoh saksi pertempuran penaklukan kota konstantinopel ini, yang sekarang di beri nama ISTANBUL.

Perjalanan menyusuri kota tua ini juga sebenarnya dalam rangka menuju rumah makan halal untuk makan siang kami. Rumah Makan Ibu Deden, menyajikan menu masakan Indonesia, disajikan dengan prasmanan.

Perjalanan berlanjut ke daerah pegunungan salju. Melewati kebun kebun bunga dan suasana pedesaan. Foto foto dari atas bus yang terus melaju, menuju Uludag.

Tanda persahabatan Turki – Jepang, di mana mana banyak pohon sakura. Cantik juga bermekaran di musim semi ini.

Hingga terlihatlah gunung yang berselimutkan hamparan salju, meski sudah tinggal sedikit, karena sudah masuk musim semi. Malah terlihat cantik kan yaaa… putih di antara hijau nya rumput dan dedaunan.

Masih bisa main salju, lempar lemparan dan selfie bareng salju Turki. Lain yaaa, dengan salju Jepang, hehehe….

Sudah kenyang kehujanan butir salju di Jepang, tetap saja di Turki menikmati lempar lemparan salju juga. Inilah local guide kami, Emine, yang tegas dan semangat dalam menggiring kami untuk cepat cepat bergerak, agar semua itinerary bisa di dapat semua dan berjalan lancar.

Kunjungan berikutnya, ke Bursa, Masjid Pangeran Mehmet, Putra Sultan Sulaiman.

Kami sholat di dalam masjid ini. Di kenal juga sebagai Green Mosque.

Keesokan harinya, kami kembali ke istanbul. Kali ini masuk ke Haghia Sophia atau Aya Sofya, dulunya gereja yang di ubah fungsi menjadi masjid, lalu sekarang dijadikan museum. indah sekali di dalam bangunan ini.

Selanjutnya, kami masuk ke Istana Topkapi atau dalam bahasa Turki nya, Topkapi Sarayi.

Melewati Taman Tulip nan indah.

Dan bertemu warga lokal yang juga sedang tamasya di taman

Masuk ke dalam istana, ada pemeriksaan dua lapis. Di dalamnya, ada dua pintu gerbang lagi. Di antara dua pintu gerbang itu, ada beberapa bangunan penting. Ada beberapa museum tempat menyimpan benda bersejarah dan berharga, termasuk benda milik Rasulullah SAW dan beberapa sahabat beliau.

Ada juga ruangan untuk pertemuan para pejabat kesultanan. Kamar untuk tempat menginap para tamu penting kesultanan.

Juga ada kamar kamar untuk para dayang dan selir istana. Dapur besar untuk memasak ribuan orang setiap hari. Dan sampai di gerbang kedua, para pengunjung tidak dibolehkan masuk. Tempat khusus keluarga Sultan.

Lanjut, melintasi selat bhosporus, dengan kapal ferry.

Bersama Local guide hari ke dua, Abdullah. Belum bisa bahasa Indonesia, so penjelasan beliau menggunakan bahasa inggris. Tapi beliau lebih sabar dan full smile dalam menangani grup kami.

Perjalanan berikutnya ke Tulip Garden. Tulip bahasa Turkinya “Lale”.

Dan tour di Turki ini di tutup dengan belanja di Grand Bazaar.

Pulang dengan Turkish Airlines ke Kuala Lumpur, transit sejenak sebelum terbang lagi ke Jakarta dengan Malindo Air.

Semoga bisa mengulang kembali kunjungan ke Turki, dengan lebih napak tilas sejarah peradaban Turki Utsmani dan kehidupan para sahabat terdahulu dalam menjejak dan menyebarkan Al Islam di negeri ini hingga terpilih menjadi kekhalifahan islam ke tiga. Meski akhirnya runtuh di tahun 1924, 3 Maret.

Leave a Reply