Trip Malang & Bromo
Day 1
Setelah persiapan yang heboh dari dua Minggu yang lalu, dari persiapan apa yang mau dibawa, kostum mana saja yang harus dipakai, bawanya pakai carrier atau koper. Kehebohan dan keseruannya hampir sama dengan anak-anak ketika mau field trip. Hampir setiap hari jadi obrolan yang seru di sela-sela waktu mengajar.

😁
πŸ˜…

Dan hari ini akhirnya petualangan seru itu dimulai. Biasanya pagi-pagi kami siap untuk berjuang mencerdaskan anak bangsa, pagi ini kami berjuang untuk berumpel-berumpelan di KRL menuju stasiun Senen. Setelah dari pagi mempersiapkan rumah agar aman ditinggal selama tiga hari.Yuppp…harus ada makanan

πŸ›
🍲

πŸ₯— yg ditinggal pastinya buat orang rumah. 
Cussss…mau berangkat ke stadela, karena janjian sama teman-teman di stasiun jam 08.30 Wib. Tapi ya…namanya manusia hanya bisa berencana, tapi Allah yang menentukan. Rencana sih berangkat jam segitu tapi tiba-tiba tenggorokan ini nggak bersahabat. Batuk sampai ngiklikkk ( what is the ngiklik?)

😁

yang orang Jawa pasti tahu.🀭Akhirnya ku kirim pesan lewat WA kalau mereka duluan aja. Karena kasihan kan kalau harus nungguin. Setelah batuk mereda, akupun berangkat  dengan tetap  berharap, tenggorokan ini bisa terus bersabahat  sampai ke tempat tujuan tanpa membuat teman-temanku terngganggu dengan irama batuk yang fals ini…

😁

Karena kalau merdu bisa masuk dapur rekaman…🀣
Alhamdulillah sampai di stadela ketemu sama Bu Atik, jadi nggak sendirian deh..yuhuuuu……senangnya hatiku, Du…du..du…du…

🎢

Dalam durasi 50 menit akhirnya sampai di Stasiun Gondangdia dengan selamat, aman dan sentosa….lebay.com.🀭. Sesampainya di Stasiun Gondangdia aku dan Bu Atik sepakat naik bajai, karena kalau naik taksi online sudah biasa. Sesekali naik kendaraan khas Jakarta. Sambil melihat-lihat kota Jakarta yang kini terlihat lebih rapih. 
Tak memerlukan waktu lama hanya 10 menit kami sudah sampai di Stasiun Pasar Senen. Dan bertemu dengan teman-teman yang lain yang sudah sampai duluan. Selain itu dari pihak travel juga sudah menyambut kami dengan ramah. Makasih Juragan Dharma dan Mba Aning, ternyata kalian friendly banget… 

😍
😁

Heboh dan seru…sudah pasti itu mah,

πŸ˜…

 kalau  guru-guru sudah kumpul, apapun bisa dijadikan candaan. Walaupun kalau di depan anak-anak, ada yang terlihat tegas dan sangar🀭, tapi kalau sudah ketemu sesama guru, keluar dah aslinya…kocak, sekocak-kocaknya.🀭

😁

Apalagi guru-guru yang masih lajang alias gadis, beuhhhh…seru dan noraknya seperti belum pernah naik kereta, 

πŸ˜…
πŸ™

dikira gerbong punya sendiri kali ya…hebohnya luar biasa,

πŸ˜…

bikin challenge foto sama kondektur, banyak-banyakan ngupas dan makan kuaci, yang bikin gerbong semakin riuh dan ramai sangat… Tapi pada akhirnya karena kehebohan yang terjadi, kita dapat teguran dari penumpang yang lain, karena mereka merasa terngganggu dan keberisikan.

😁

🀭 Setelah dapat teguran dari penumpang lain, akhirnya kesunyian dan keheningan pun menyapa. Kami semua terdiam….tapi ternyata ramenya pindah ke grup WA.

😁
😁

Tapi keseruan itu tidak hanya berhenti sampai disini. Setelah kami duduk kembali di kursi masing-masing, ada saja topik yang jadi bahan pembicaraan. Dari cerita ru’yah, masalah sosial, food, bahkan akhirnya kembali ke masalah anak didik. Padahal diawal kita udah sepakat, kita mau refreshing ya…untuk sementara jangan ngomongin masalah sekolah dulu ya,

😁

tapi akhirnya tetap saja, anak-anak tetap jadi bahan pembicaraan kita. Itu menunjukkan betapa sayangnya guru-guru pada muridnya..

😍

, dimana pun, dalam kondisi apapun, kita tetap ingat dan mendoakan mereka, so sweat…nggak sih????

😍

Semoga diantara mereka nanti ada yang mengajak kita masuk syurga ya bapak/ibu guru…aamiin🀲🏻
Dan akhirnya perjalanan ini harus kami lanjutkan ke alam mimpi. Kami harus menunggu 5 jam lagi untuk sampai ke Stasiun Malang. Stasiun tujuan akhir kami. Semoga semua sehat, dan esok hari bisa melanjutkan semua aktivitas trip kita dengan menyenangkan…aamiin ..
Met Rehat…

😴
πŸ™


Day 2
Tepat pukul 02.45 kami sampai ke Stasiun  Malang. Dingin pagi menyambut lembut, dan menerpa wajah-wajah lelah kami. Memberikan kesegaran  di mata-mata yang masih sepet, karena semalaman tidak bisa tertidur nyenyak. Terbayang kan 13 jam perjalanan di kereta, hanya duduk, makan, tidur. Mau ngelonjor juga susah. Bagiku yang terbiasa naik kereta aja terasa capai banget, apalagi teman-teman yang jarang naik kereta. Tentunya menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa capai, iya kan teman-teman???

😁

Kami pun turun membawa koper dan tas masing-masing. Sebagian langsung menuju pintu keluar, sebagian ada yang ke toilet. Karena  ada hasrat yang mendesak, aku pun ke toilet, bareng kepsek ( Bu Diah). Ternyata ada beberapa antrian disana. Kami pun harus bersabar menanti. Ada kejadian lucu saat menunggu antrian toilet. Ada ibu-ibu yang  sedang di sebelah saya,. Tiba-tiba bertanya sesuatu yang membuat saya sedikit kegeeran.

😍
πŸ˜…

, Bagaimana tidak geer, ini dia pertanyaannya pemirsah..” Mba kuliah dimana?”Aihhhh….masih dikira mahasiswi guys…

😍
πŸ˜‚

Kebayang kan saat itu aku sudah banyak dihinggapi kupu-kupu di wajahku, alias kegeeran tingkat dewa…

πŸ˜„
πŸ˜„

Sstttt…udah ya nggak akan aku bahas lagi hal itu, bikin malu-malu tapi mau..🀩Setelah kami menyelesaikan hajat, kami pun dibreafing  sama tour guide trip kami kali ini yaitu Juragan Dharma. Kegiatan pertama hari ini adalah santai di pusat kuliner Kota Malang, yang tempatnya tepat di depan Stasiun Malang. Banyak  warung  makan berjejer, walaupun belum semua buka . Setelah santai sejenak di sana, kami diarahkan ke Masjid Agung Malang. Untuk shalat subuh dan mandi tentunya. Diantar menggunakan angkutan kota, akhirnya kita sampai di Depan Masjid Agung Malang. Ternyata deket dari stasiun. Hanya memakan waktu 5 menit untuk sampai disana. 
Setelah sampai Masjid Agung Malang, aku segera menyegarkan tubuh dan menumpang mandi. Rasa segar menyeruak ke seluruh tubuh, dan memunculkan energi baru untuk siap berpetualang hari ini. Setelah semua selesai bersih-bersih. Kami eksplor Alun-alun Malang, yang berada persis di depan Masjid Agung Malang. Udah kebayang kan apa yang terjadi di situ?

😁

..yupppp….photo-photo…

😍

, Apalagi sebelumnya udah dapat bisikan dari Juragan Dharma” Nanti disana jangan malu-malu foto ya, karena setiap moment belum tentu bisa terulang kembali, jadi jangan sampai nyesel ya..” Karena pengalaman wisatawan yang pernah didampinginya nyesel setelahnya, karena malu-malu untuk foto-foto.
Berkat pesan itulah, akhirnya kami semangat banget mengabadikan semua moment, berswa foto, khawatir nyesel..

πŸ˜…

, bukannya malu-malu, tapi malahan malu-maluin…

πŸ˜†

, Lupa kalau diri udah jadi emak-emak, foto pakai lompat-lompatan kayak ABG, yang ada akhirnya turun bero…

πŸ™ˆ

, Tapi nggak papa sih, yang penting hepi, iya kan? Karena kita diajak kesini kan tujuannya refreshing, biar hepi…dan ketika menghadapi anak murid  beserta semua perangkat pekerjaan sudah fresh dan semangat lagi, walaupun badan masih pegel linu.

😁

.
Setelah puas foto-foto di Alun-alun, kami kembali ke pusat kuliner Kota Malang untuk sarapan pagi. Harganya lumayan murah, nasi soto ayam cuma Rp. 10000, dikasih bonus kerupuk lagi. Yah….walaupun nunggunya harus pake lama…

πŸ™ƒ

, iya ..karena pembelinya banyak guys…jadi harus antri ya..

😊

, Tapi Alhamdulillah walaupun pesenan lama dan paling akhir datang, akhirnya berkesempatan sarapan soto ayam yang hangat, enak dan memberikan energi baru. 
Selesai sarapan, perjalanan dilanjut keliling Taman Balai Kota Malang, Menikmati Kota Malang yang bersih. Nggak salah kalau dapat penghargaan Adipura, karena memang kotanya terlihat bersih dan rapi banget… Lanjut guys…foto-foto lagi ya..jangan lupa mengabadikan setiap moment, yang  tak akan terulang, dan bisa dijadikan sebuah cerita di masa yang akan datang. Biarin lah…kita dibilang norak dan lebay, karena kebanyakan berfoto-foto ria…

😊

, yang penting bahagia, 

😍

Lanjut lagi ya guys…kita eksplor ke Kampung Warna Jodipan Malang…

πŸ•

️

🏠
🏑

Sebuah kampung yang tadinya kampung kumuh, dan disulap menjadi kampung yang sangat cantik dan  colorful. Setiap rumah warga dicat dengan warna yang cerah dan berbeda antara satu rumah dengan rumah yang lainnya . Sudut-sudut, lorong jalan, tangga, jembatan, bahkan tembok rumah juga dipenuhi dengan hiasan atau kata-kata yang menarik dan unik, sehingga menarik perhatian para pengunjung dan wisatawan untuk mengabdikannya dengan berselfi, atau weefie. Karena spot-spot fotonya sangat instgramable guys…rugi banget kan kalau nggak diabadikan.🀩 Karena keunikannya Kampung  kumuh itu kini dijadikan salah satu destinasi wisata Kota Malang. Dan tentunya sangat membantu perkonomian masyarakat. Keren kan…

😍

semoga bisa menginspirasi kota-kota yang lain ya..aamiin.
Ada satu pembelajaran yang aku bisa ambil di Kampung Warna. Bahwa sesungguhnya perjalanan hidup itu penuh dengan warna, terkadang berwarna cerah, terkadang berwarna gelap. Janganlah mudah terlena ketika kita mendapatkan kecerahan hidup, tapi jangan pula  kita  berhenti berjalan, hanya karena di depan kita terbentang warna yang gelap. Bisa jadi dibalik warna yang gelap ada seberkas cahaya menanti kita…eeeaaaa

😍
πŸ˜…

Perjalanan dilanjutkan ke Candi Jago. Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, nama Candi Jago sebenarnya berasal dari kata “Jajaghu”, yang didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13. Jajaghu, yang artinya adalah ‘keagungan’, merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat suci. Candi Jago terletak di Jalan Wisnuwardhana, Jl. Ronggowuni, Ronggowuni, Tumpang, Kec. Tumpang, Malang, Jawa Timur. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita warga setempat karena tersambar petir, aneh nggak sih????

πŸ€”

Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Secara keseluruhan bangunan Candi ini tersusun atas bahan batu andesit.
Pada candi nilah Adityawarman kemudian menempatkan Arca Manjusri seperti yang disebut pada Prasasti Manjusri. Sekarang Arca ini tersimpan di Museum Nasional.
Karena hari semakin siang dan kebetulan juga hari Jumat, jadi  bapak guru pun harus melaksanakan kewajiban shalat Jumat, kamipun mempersingkat kunjungan kami ke Candi Jago. Setelah berpose bersama seluruh guru, kami lanjutkan perjalanan kami untuk makan siang dan shalat. Karena perut pun semakin nggak bersabahat, keroncongan minta untuk diisi, alias ..laparrrrr…,🀭Ternyata tempat makan yang sudah dipesan nggak jauh dari lokasi candi, Alhamdulillah…siang ini kita bisa merasakan nasi pecel khas Kota Malang, rasanya…hmmmmm….jangan ditanya….

😊

, ” Sesungguhnya nikmat mana lagi yang kamu dustakan?”
Sembari menunggu bapak-bapak shalat Jum’at, aku dan teman -teman guru lainnya menunggu di D’Forest (kalau nggak salah) lupa soalnya..

πŸ™ˆ
πŸ™

 salah satu tempat para pendaki bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Sebenarnya disana ada Gazebo untuk istirahat, tapi kita kalah cepat dengan para pendaki Gunung Semeru. Gazebo-gazebo yang ada sudah dipenuhi carrier para pendaki. Karena trip kita kali ini memang high session guys …jadi pas banget bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Yang tentunya pengunjung dan pendaki  Gunung Semeru dan Bromo lebih banyak dari biasanya. Karena mereka ingin memanfaatkan moment spesial, mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung…yeahhh…merdeka…

πŸ’ͺ

Jadi nggak papa lah kita ngadem dimushola, sekalian persiapan shalat dhuhur. Meskipun hanya mushola kecil, tapi mampu membuatku terlelap sebentar, karena efek malam tadi susah tidur, siang ini jadi terasa mengantuk sangat. Lumayan lah..bisa tertidur lelap disaat ngantuk, itu nikmat yang tiada tara lho..

😚

 sungguh nikmat mana lagi yang kamu dustakan?
Setelah semua sudah selesai shalat dhuhur, kami melanjutkan trip  selanjutnya, trip penutup untuk hari ini. Kemana kita????ke Coban Jahe..(Curug Jahe) Nah…lagi-lagi ya, karena hari ini benar-benar spesial, kita pun yang rencana awal pakai mobil Jeep, harus rela pakai angkutan kota menuju Coban Jahe. Karena siang ini Jeep-jeep yang ada harus mengantar para pendaki ke Semeru. Kalau tidak naik siang ini, tiket yang mereka beli secara online akan hangus, kasihan  kan…Dan para pendaki juga banyak yang  berasal dari daerah luar kota, ada yang dari Bandung, Jakarta, Palembang, dan Depok tentunya .

😁

 Ya sudah kita nikmati aja, perjalanan menuju Coban Jahe dengan menggunakan angkutan kota. In sya Allah nanti malam naik jeep menuju ke Puncak Bromo…Yuhuuuuu..

🚜

Sambil menikmati pemandangan alam yang asri, kami menyusuri jalan  dengan menggunakan angkutan kota. Namun 500 meter mendekati lokasi, ternyata ada pengecoran  perbaikan jalan.  Seharusnya mobil yang kami naiki bisa sampai di parkiran Coban Jahe, tapi karena ada perbaikan jalan mobil kami hanya bisa sampai di bawah. Sehingga kami harus berjalan kaki untuk sampai ke Curug. Awalnya sedikit kecewa, dan pinginnya nggak ikut naik nunggu di mobil aja, tapi setelah dipikir-pikir, udah jauh-jauh ke sini tapi kita tidak sampai ke tujuan, kan sangat disayangkan. Akhirnya aku pun menghilangkan sedikit rasa kecewa dengan trus berjalan  menikmati pemandangan perbukitan yang luar biasa indah. Tapi karena musim kemarau jadi terlihat lebih gersang. Namun tak mengurangi keindahan alam yang disuguhkan. Betapa indah cipptaanMu duhai Rabb…Subhanallah…
Setelah sedikit menanjak sekitar 200 meter ada plang terpampang Curug Tarzan, tapi terlihat kurang terawat. Di seberangnya juga ada destinasi wisata baru, dengan spot foto yang lumayan bagus. Ada tenda-tenda layaknya Suku Indian berdiri berjejer rapi dipinggiran sungai. Ada juga ban-ban yang ditumpuk, mungkin salah satu wahananya rafting, karena memang sebelahnya adalah sungai yang terbentang. Yang terhubung langsung dengan Coban Tarzan . Air yang jernih, batu-batu alam yang kokoh, menambah keindahan sungai. Walaupun airnya tidak terlalu banyak karena musim kemarau. Destinasi wisata yang memanfaatkan alam. Dengan sedikit polesan akan sangat menarik wisatawan untuk datang, dan tentunya lagi bisa mendongkrak perekonomian warga. 
Tapi bukan kesini ya tujuan kami…

😚

, Kami harus berjalan lagi untuk sampai ke Coban Jahe, katanya sih sudah nggak jauh lagi…semangat….

πŸ’ͺ
🚢

 Dan betul banget.. ternyata memang nggak jauh, yah…sekitar 200 meter lah..

😁

. Sesampainya di gerbang kami disambut oleh pohon-pohon yang tinggi. Yang memberikan pasokan oksigen dan kesejukan yang menghilangkan rasa lelah. Saung-saung juga banyak berdiri disana. Tapi sangat sepi, mungkin karena bukan hari libur kali ya..jadi pengunjungnya hanya dari rombongan kami. Berasa curug pribadi ini mah…Coban Jahe terlatak di samping saung-saung. Aku segera Berlari ke Curug, nggak sabar rasanya untuk merasakan sensasi dinginnya air Coban/ Curug Jahe. Curugnya memang tidak sebesar Grujugan Sewu, tapi kesejukannya cukup membayar lelah, sisa perjalanan tadi. Kuhirup udara dalam-dalam memenuhi rongga dada. Kutatap Coban Jahe yang seperti air tumpah,  kuedarkan pendangan ke sekitarnya, batuan di tebing yang  berlumut namun terlihat kokoh, dan menyimpan banyak ilmu mungkin usianya sudah atusan  tahun, terlihat begitu mempesona. Betapa Allah menunjukan keagungan ya dengan semua ciotaanNya…
Keinginanku untuk nyebur kurungkan. Hanya bapak-bapak aja yang nyebur  menikmati dinginnya air Coban Jahe. Sementara kami yang perempuan hanya berswafoto melukis kenangan.

😍

, Karena pada nggak bawa baju ganti🀭. Disaat kami berswafoto, ada 

🌈

 yang nampak. Berharap pelanginya panjang  gitu ya, siapa tahu bisa lihat bidadarinya yang beranjak terbang ke khayangan

😁

.Tapi ternyata pelanginya pendek.Karena bidadarinya nggak bawa selendang sih..malah nyuci kaos kaki…

πŸ˜…

Setelah puas bermain air dan berswa foto, kami pun siap-siap pulang untuk istirahat di home stay. Sebelum pulang iseng nanya sama bapak-bapak yang jaga gerbang. Kenapa sih namanya Coban Jahe, apa karena disini banyak pohon jahe? Ternyata katanya dulu di deket Coban/curug ada pohon jahe raksasa, jadi Cobannya dinamakan Coban Jahe. Saya jadi berfikir, Coban Tarzan

πŸ€”

 apakah mungkin di sana ada Tarzannya juga????🀣 Wallahu ‘ alam..
Jam 17.00 kami sampai di home stay 

🏘

️ yang ternyata rumahnya orangtua  mas Kharis, salah satu tour guide kami yang wajahnya seperti orang Jepang.

😁

🀭 Tapi ramahnya seperti orang Jawa🀭

😁

. Beliau menceritakan dan menjelaskan tentang  semua destinasi yang kami kunjungi, dengan sabarnya ya iyalah…namanya juga tour guide..

😊
πŸ™

Setelah dibagi kamar oleh bunda Trisia selaku koordinator perjalanan ini

😘
πŸ€—

, kami mandi secara bergantian dan persiapan shalat Maghrib. Kami perempuan mendapatkan kamar dilantai 2, dan bapak-bapak di lantai 1. Kamipun melaksanakan shalat Maghrib berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan almatsurat bersama-sama. Inilah perjalanan yang bukan hanya mengejar kesenangan duniawi saja alias senang-senang doang tapi  ridho Allah tetap menjadi tujuan kami. Dengan dzikir bersama  kami terasa lebih dekat, walaupun mungkin terkadang kita berbeda pendapat saat di sekolah, tapi hati kami tetap terhimpun dalam satu barisan , dalam satu ikatan keluarga yang selalu saling mengingatkan , saling memahami karakter kami masing-masing.  My friend loves all of you because of Allah🀩🀩
Setelah shalat dan dzikir bersama, ternyata ada aroma-aroma yang membuat perut kami berdendang, dan meminta haknya untuk segera diisi. Menu soto ayam,  bakwan, tempe goreng dan kerupuk cocok banget menjadi menu makan malam. Karena udaranya dingin bangetttt.. Jadi cocok banget kan..anget-anget gitu

πŸ˜‹
πŸ›
🍝

Karena mungkin sudah kelelahan, tak lama setelah makan malam, kami masuk ke kamar kami masing-masing. Dan tak lama suasana pun menjadi sunyi. Hanya suara tv yang masih memenuhi ruangan. Bahkan kamar yang aku tempati sudah gelap. Mau nerusin nulis juga nggak jadi, selain gelap..mata ini juga sudah  ngantuk sangat, mending tidur ajalah..persiapan buat besok pagi. Karena kami harus bangun jam 1 dini hari untuk naik ke puncak Bromo. Ya udah met rehat ya…sampai ketemu di the last story’…semoga bisa ketulis..

😴

Day 3 : The last story
Alarm yang ku stel berbunyi berbunyi nyaring membangunkanku. Perlahan kubuka mata yang masih terasa berat. Kugapai benda pipih persegi yang sedari tadi sudah berbunyi nyaring. Dengan sengaja aku mematikan alarm dan ingin menarik selimutku kembali. Perjalanan seharian kemarin memang membuat tubuh ini berat untuk beranjak. Pegal semua guys…ditambah lagi udara dingin yang menusuk-nusuk sampai ke tulang…beuuuhhh…meni nyeuri…

😚

 . Namun disaat aku ingin menarik kembali selimutku, ternyata kulihat teman-temanku sudah pada bangun. Bahkan Bu Tina ketua Yayasan sudah mandi…kerennn bener ini Bu Tina, padahal airnya kan seperti air es…beurrrrrr…bukan hanya dingin, tapi dinginnnnn bangetttt .

😨

. Akhirnya niat tidur lagi kuurungkan, malu lah…lagian ntar bisa ditinggal  ke  Bromo…oh….tidakkkkk …jangan tinggalkan Ani Roma…

😳
😁

.Sambil nunggu antrian ke kamar mandi aku duduk mencoba mengumpulkan sebagian  nyawa yang hilang…

😁

, Apaan sih ya..gaje banget kan ..

πŸ™ƒ

nggak usah dipikiran ya..

πŸ˜€
πŸ˜ƒ

Alhamdulillah akhirnya berkesempatan masuk juga ke kamar mandi. Masya Allah guys…dinginnya…sampai tanganku terasa kram, dan sakit terkena air yang sangat super duper dingin. Akhirnya aku hanya berani gosok gigi dan cuci muka, dilanjut wudhu. Maaf nggak berani mandi

πŸ™ˆ

. Keluar dari kamar mandi ternyata yang lain udah pada siap kuy…Terdengar suara Juragan Dharma dan Mba Ning yang ngoprak-ngoprak kita semua untuk cepetan, khawatir macet, dan kita nggak bisa  ketemu sama si sunrise. Karena moment ketemu si sunrise inilah yang ditunggu-tunggu oleh pendaki saat mendaki gunung. Dengan terburu-buru akhirnya aku mempersiapkan semua. Ganti baju, jaket tebal, syal, sarung tangan, kupluk, dan hp juga jangan sampai ketinggalan. Sebelum turun aku sempatkan shalat malam walaupun  cuman dapat dua rakaat. Coba kalau tadi bangunnya cepet..tuh kan nyesel, habisnya badan ini terasa berat guys..untuk bangun..Yo wis Ra Popo lah..sekarang cusss kita berangkat.
Sebelum berangkat  kita dibreafing lagi sama Juragan Dharma. Dan dikenalkan juga Tour guide yang akan menemani  perjalanan kita ke Bromo menggantikan mas Kharis, yang ternyata oh ternyata adalah adiknya mas Kharis, yaitu mas Arif, masih lajang  guys …jadi kebayang kan betapa hebohnya para gadis…

😍

. Untuk keselamatan kita semua  perjalanan ini diawali dengan doa yang dipimpin oleh ustadz  M.Ilyas. Setelah berdoa kami semua diabsen untuk naik ke Jeep yang sudah ditentukan travel  TP + AFAST Indonesia..Cusss ah..Yuhuuu…Bromo I’m Coming..

🚜

Jeep yang kami naiki berjalan menembus dinginya  malam. Suasana yang dingin membuat kami sedikit menggigil. Tapi ketika di dalam jeep rasa dingin itu sedikit berkurang. Iya karena di dalam kan mpet-mpetan..

😁

 jadi lumayan menghangatkan.

πŸ€—

 Jeep berjalan pelan menyusuri gelapnya malam. Terkadang sedikit berkabut. Jalanan yang berkelok-kelok ternyata membuatku pusing dan mual

πŸ˜‡
πŸ˜“

🀀. Aku segera memejamkan mata, maksud hati biar pusingnya hilang. Tapi ternyata nggak hilang juga. Semoga nggak munmun ya..malu aku, kalau sampai munmun 

πŸ™ˆ

. Tapi ternyata bukan hanya aku yang merasakannya guys…Sarah ternyata udah munmun duluan. Memang perjalanannya luar biasa guys…berkelok-kelok, naik turun lagi..sehingga membuat orang yang biasa mabokan seperti saya ,sangat terasa tidak nyaman.
Sekitar pukul 03.30 akhirnya kami sampai di lereng Bromo. Masya Allah guyssss…. dinginnya pake banget, suhunya minus 8 derajat celcius, jadi kebayangkan kan dinginnya kayak apa. Tidak terbayang kalau di kutub itu dingin kayak apa. Jadi bersyukur  aku lahir, dibesarkan dan hidup di negara tropis, yang suhunya sangat pas banget orang yang alergi dingin seperti aku. Alhamdulillah…Karena sudah mendekati waktu subuh , maka kami sepakat untuk menunaikan shalat subuh terlebih dahulu. Dan insiden tangan kram karena airnya sangat dingin terjadi lagi. Kali ini benar-benar sakit. Kukibas-kibaskan tangan ini agar rasa sakit segera hilang. Setelah beberapa saat Alhamdulillah rasa sakit itu hilang juga. Akhirnya kucoba lagi untuk berwudhu . Kuurungkan tayamum seperti yang disarankan Juragan Dharma. Aku berfikir masa iya sih kalah sama air…yeahhh…akhirnya berhasil juga wudhunya, masih dingin sih, tapi tidak sesakit yang tadi.
Selesai shalat subuh kami berjalan sedikit ke atas tanjakan Bromo. Mencari posisi yang pas untuk menunggu si sunrise nongol secara perlahan, membiaskan siluet dengan spektrum warna yang  sangat indah dan mengagumkan, perlahan memberikan sinarnya untuk  menerangi seluruh mayapada. Subhanallah…pemandangannya indah banget guys…🀩Gunung Batok yang berdiri dengan gagahnya, berdampingan dengan bukit Widodaren, dan Gunung Semeru yang mengepulkan asap. Meski dalam remang tergambar jelas keperkasaan gunung-gunung yang berdiri di hadapanku. Bulan purnama yang tampak bulat sempurna pun masih menampakan cahayanya yang indah. Bintang-bintang juga masih terlihat kerlipnya diantara semburat -semburat siluet pagi yang menakjubkan.  Di bawah sana terlihat kerlip-kerlip lampu Jeep bak cahaya  bintang. Masya Allah…Rabbi terlihat jelas keagunganMu. Betapa kecilnya kami. Tak pantaslah aku untuk bersikap sombong. 

😭

Tak menyia-nyiakan pemandangan yang indah, kami pun mengabadikannya dengan berselfie ria. Sayang kan kalau nggak dimanfaatkan, belum tentu bisa datang lagi kesini. Yang tidak ketinggalan berfoto menggunakan bendera merah putih guys…yuppp karena hari ini adalah tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan Republik Indonesia. Moment yang sangat jarang kami temui, pas HUT RI kita ada di puncak gunung, kaya pendaki-pendaki gitu…

πŸ˜€

Merdeka…Merdeka..

πŸ’ͺ

Karena itulah pengunjungnya sangat banyak guys…banyak yang memanfaatkan moment HUT RI ini. Penjualnya juga tak kalah banyak, memanfaatkan moment juga untuk mengais rezeki. Dari penjual bunga edelweis, makanan sampai kaos  bertuliskan Bromo. Aku sangat bersyukur dan merasa beruntung, bisa kesini di moment yang spesial seperti saat ini. 
Sudah puas berfoto-foto di tanjakan, kami pun kembali ke Jeep, untuk turun kebawah. Karena sang mentari juga sudah mulai menampakan dirinya. Sesampainya di bawah, lagi-lagi aku dibuat terkesima. Hamparan pasir yang sangat luas, Gunung Batok, Wididaren yang terlihat amat dekat, Masya Allah…Rabbi…terima kasih, karena sudah mengizinkanku menjejakkan kaki di salah satu bagian bumiMu yang sangat luar biasa indah dan menakjubkan. Melihat semua keagunganMu dari bagian kecil CiptaanMu..” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (An Naba’, 78: 6-7)”
β€œDan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk” (QS. Al Anbiya: 31) Semoga kami termasuk orang-orang yang bersyukur dan mendapatkan petunjuk..aamiin..
Kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berswafoto. Dari pose foto bersama-sama, sendiri, diatas jeep, berlarian di atas hamparan pasir,  memegang bendera, membuat formasi sampai gaya melompat, sehingga hasil jepretannya seolah-olah kita bisa melayang dan terbang

πŸ˜‚
😁

 terinspirasi  dari film kolosal ya,  Wiro Sableng, Mak  Lampir, atau  Yoko. 

😁
πŸ˜„
πŸ˜†

 Ketahuan  kan  umurnya udah  hemmmm

πŸ™ˆ

…Pokoknya di sini  keluar semua bakat terpendam  yang belum kesampaian Foto Model…

😍

🀩

😁
πŸ˜†
πŸ˜…
πŸ˜‚

Mentari semakin terlihat jelas menguasai alam raya dengan sinarnya  yang  semakin terang. Langit yang gelap terlihat semakin membiru berhiaskan awan putih yang memancarkan kedamaian dan keindahan . Masya Allah…tak sanggup bibir ini untuk tak memuji Maha Karya Mu duhai Rabb…sangat indah dan terlalu indah ..Langit biru yang luas seumpama payung, dan gunung-gunung yang menjulang di hadapanku seumpama tiang-tiang raksasa sebagai penyangganya, dan aku,…lihatlah betapa kecilnya aku disini, ya Rabb…lindungi aku dari segala kecongkakan dan kesombongan..aamiin
Karena suasana semakin siang dan terik, kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami ke kawah  Bromo. Di sini lokasi pusat untuk wisatawan. Selain ada kedai-kedai makan, toilet, dan sejumlah pedagang yang menjajakan oleh-oleh khas Bromo, bunga Edelweis,  dan kaos bertuliskan Bromo yang harganya lumayan murah.  Lokasinya tidak terlalu jauh dari Gunung Batok dan Gunung Widodaren. Disana banyak juga kuda-kuda sewaan yang siap mengantar  para wisatawan sampai ke tangga Kawah Bromo bagi yang tidak kuat berjalan. Biayanya  sekitar Rp.50.000 per kuda. Karena jaraknya  kalau jalan lumayan, dari parkiran sampai ke tangga sekitar 2 km, dan  untuk bisa sampai ke puncak masih sekitar 2 km lagi, jadi kalau dari parkiran sampai ke kawah sekitar 2-4 km lah…
Aku beserta teman guru akhwat, bertekad untuk berjalan kaki saja, selain untuk olahraga, biar hemat juga..

πŸ˜…

lumayan kan buat tambahan beli oleh-oleh

😁

, biasa ya emak-emak memang selalu penuh perhitungan. 

😁

 Tapi ternyata jalan di pasir itu tidak  bisa secepat dijalanan beraspal ya, dan lebih cape, dan berat. Kalau kata Dilan rindu itu berat, kayaknya jalan di atas pasir jauh lebih berat deh..

😁

, bikin ngos-ngosan.. 

πŸ™ˆ

…Meskipun jalan pelan-pelan penuh penghayatan 🀩tapi akhirnya sampai juga kita di depan Pura Luhut Poten yang lokasinya tepat di bawah kaki Kawah Bromo, Pura Luhur Poten menjadi tempat ibadah nan sakral bagi Suku Tengger yang menghuni kawasan Taman Nasional Bromo di Jawa Timur. Pura tersebut juga erat kaitannya dengan Upacara Yadya Kasada yang rutin diselenggarakan setiap tahun.Masyarakat Tengger percaya, bahwa Pura tersebut menjadi kediaman dari Isa Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan perwujudan dari Dewa Brahma. Sepeti diketahui, Brahma merupakan tiga dewa besar dalam agama Hindu selain Siwa dan Wisnu.Sejarahnya, Pura Luhur Poten berdiri tahun 2000 di kawasan lautan pasir Bromo. Arsitekturnya merupakan percampuran dari budaya Jawa dan Bali yang sangat kental dengan nuansa agama Hindu.
Kami berhenti sejenak di depan Pura menatap indahnya gunung yang menjulang. Menghirup segarnya udara pegunungan. Mengabadikannya lagi dengan berswafoto. Beberapa teman melanjutkan perjalanan untuk naik sampai ke kawah Bromo, namun aku dan sebagian teman guru( Bu Diah, Bu Tina, Bu Nita, Bu Ningrum, Bu Tenny, Bu Usrotun)sepakat tidak melanjutkan sampai ke atas. Karena sepertinya” ku tak sanggup bila aku harus, naik ke atas kawah”

🎡

 Kami justru tertarik untuk bisa naik balon udara. Karena selama ini baru bisa lihat di tv aja🀭

😁
πŸ˜†
πŸ˜…

Kamipun berbalik kearah parkiran, karena balon udara tidak terlalu jauh dari parkiran. Tapi….setelah sampai disana ternyata harganya jauh dari yang kami bayangkan, bukannya mahal..tapi aku aja yang nggak mampu

πŸ˜‚
πŸ™ˆ

Kirain paling 50 – 100 rb per orang, ternyata 500 rb guys…sayang kan…500 rb hanya untuk naik balon udara yang durasinya hanya 10 menit. Akhirnya kami angkat tangan dan mundur teratur 

😝

.Mendingan cari sarapan deh…karena perutnya udah mulai berdendang minta untuk diisi. Setelah sarapan nasi lodeh, sambil nunggu teman-teman yang masih di atas, kami lanjutkan belanja oleh-oleh kaos Bromo buat ponakan 

πŸ‘•

, sayang anak, sayang ponakan, sayang suami..

😍

Setelah semua sudah kumpul, kami melanjutkan lagi perjalanan kami yaitu ke Pasir berbisik. Kenapa dinamakan pasir berbisik? Katanya sih ..kenapa dinamakan angin berbisik, karena kalau ada angin yang kenceng, pasir itu akan saling beradu, sehingga menghasilkan suara, seperti sebuah bisikan. Yang penting jangan bisik-bisik tetangga ya, karena kalau bisik-bisik tetangga nantinya jadi bikin rame..

😁

🀭Sebenarnya aku pingin denger seperti apa sih pasir kalau sedang berbisik, tapi nyatanya, aku nggak bisa mendengarnya. Mungkin pasir itu malu pada kami yang  bukannya berbisik tapi berisik..

😁

 atau mungkin dia sedang  mempertahankan kesetiaannya, agar menjaga diri dari berbisik pada orang lain?entahlah…biarkanlah alam berbisik dan menyimpan berjuta -juta misteri yang tidak ada satupun yang tau, hingga ia sendiri yang akan mengungkapkannya…

😍

🀩
Karena saat itu adalah tepat tanggal 17 Agustus, hari yang sangat bersejarah bagi negeri ini. Hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74. Kami bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan hikmat. Ada rasa haru, saat kami menyanyikan lagu itu. Tidak terbayang perjuangan para pahlawan yang berjuang untuk memerdekakan negeri ini dari para penjajah. Kini saatnya giliran kami berjuang  untuk memerdekakan anak didik kami dari bentuk kebodohan, kesombongan, dan juga rendah diri. Ridhoi langkah kami ya Rabb…tak terasa netra ini berkabut..

πŸ˜ͺ

Kami melanjutkan lagi perjalanan kami ke destinasi terakhir kami di Bromo.Bukit Teletubbies….Bukit Teletubbies merupakan sebuah bukit yang terletak tepat di sisi Gunung Bromo. Dulu ada  yang suka atau pernah nonton serial TV anak anak β€œTeletubbies” ? Masya Allah….lokasi bukit Teletubbies ini mirip banget guys…aku juga langsung terperangah melihat kemiripan bukit yang ada di serial TV tersebut dengan yang ada di Gunung Bromo ini…jadi ngebayangin…ada Tinky Winky , Dipsy, Laa laa, dan Po muncul dari balik perbukitan itu…matahari yang berwajah bayi tersenyum…

🌞

lucu banget kali ya…

😁

, Tapi sayangnya itu hanya khayalanku saja…

πŸ˜†

🀭Seperti biasa kami memanfaatkannya lagi untuk berpose lagi, selama memory belum penuh…

😁
πŸ˜„

 Cekrek sana, cekrek sini, cekrek situ…

πŸ“·
πŸ“Έ
πŸ“±
πŸ“²
πŸ’ƒ

πŸ•Ί
Akhirnya kami mendengar arahan untuk balik ke Jeep masing-masing untuk kembali ke home stay, dan siap-siap balik ke Depok.Mungkin karena kelelahan temen-temenku satu Jeep (Bu Tari, Sarah, Bu Rini, Bu Rina, Bu Tenny dan pak Ilyas) ada yang tertidur pulas. Karena semalam aku nggak sempat melihat-lihat pemandangan karena pusing, kali ini aku tak mau melewatkannya. Dan Alhamdulillah siang ini aku malahan nggak pusing seperti semalam. Pamandangannya hampir mirip di Puncak, dan Bandung, di pinggir-pinggir jalanan yang menurun banyak terasering-terasering yang ditanami sayuran, karena di daerah pegunungan memang cocok untuk ditanami sayur-mayur. 20 menit perjalanan akhirnya kami sampai di home stay. Saatnya beres-beres dan bersih-bersih. Karena sepertinya seluruh tubuh ini dipenuhi dengan debu. Yuhuuu…siap antri mandi .
Setelah beres-beres kami sudah disiapkan makan siang oleh ibunya mas Kharis. Jam 13.00 tepat kami dijemput untuk segera ke tempat oleh-oleh di Gudang. Kami pun berpamitan sama ibu dan adiknya mas Kharis, walaupun cuma nginap semalam, berasa udah seperti keluarga..terima kasih ya ibu untuk semua servicenya, semoga suatu saat bisa kembali bersua.Aamiin..

πŸ€—
😘

Hanya dalam waktu 15 menit kita sampai ke Gudang, pusat oleh-olehnya kota Malang. Dan biasa deh…kalau emak-emak belanja, tadinya rencana hanya mau beli oleh-oleh beberapa saja, karena kebayang repot bawanya. Tapi…ya..namanya rencana tinggal rencana, realitanya, saat di outlet langsung dah…ingat ponakan, ingat suami, ingat teman ngaji, ingat teman yang nggak bisa ikut, ingat tetangga..

😁

.Dan … tak terasa dapat deh..satu kardus oleh-oleh, jadi mikir ini bagaimana  bawanya belum koper baju..???

πŸ˜‡

Bismillah…
Tapi ternyata bukan hanya aku guys…yang bawa kardus, hampir semua malah, teman guru pada bawa kardus oleh-oleh, udah kayak mudik pokoknya..

πŸ˜…

Semua sudah mendapat tentengan masing-masing saatnya kita go Stasiun Malang. Walaupun jadwal  kereta jam 18.30, tapi sebelum itu kita harus prepare, satu jam sebelumnya harus udah di tempat. Sambil nunggu kereta datang, kita iseng makan bakso Malang yang ada di depan stasiun. Tapi rasanya masih enak bakso Malang yang ada di Depok.. πŸ₯£πŸ€­. Setelah shalat Maghrib, akhirnya kereta Majapahit itu tiba, siap untuk mengantar kami semua kembali ke Depok, ke keluarga kami masing-masing, kembali pada realita hidup yang penuh tantangan, penuh warna, penuh perjuangan dan harus kami hadapi dengan ikhlas sepenuh hati.

πŸ’ͺ

Terima kasih kepada  segenap pengurus Yayasan Al Fatih Cendekia Bu Agustina Wulandari, Bu Tri Utari, Pak Jemmy, pak Bambang yang sudah memberikan apresiasi dan mengajak kami untuk  menjejakkan langkah kami  dibagian bumi Allah yang sangat luar biasa, membangun kenangan, membangun semangat baru. Semoga SDIT Al Fatih semakin berkah, semakin jaya, semakin lebih baik dalam mutu, sehingga  generasi-genarasi yang lahir dari SDIT Al Fatih adalah generasi yang sholih-sholihah, unggul di dunia &akhirat..aamiin .
Terima kasih untuk team TP + AFAST Indonesia (Juragan Dharma, Mba Aning, Mas Kharis dan Mas Arif) yang sudah sabar dan selalu ceria membersamai kami selama 3 hari di kereta, Malang dan juga Bromo. Semoga suatu saat bisa pergi bersama dalam trip yang berbeda, aamiin…

😍

Terima kasih juga teman-teman guru istimewa, untuk semua kebersamaan yang telah tercipta

πŸ€—

perjalanan bersama kalian memang selalu menyenangkan, dan akan selalu terkenang sampai umurku semakin usang. Sungguh kebersamaan yang terlalu manis untuk dilupakan…

πŸ€—
😘

Dari alam aku belajar arti kedamaianDari alam aku belajar arti kebersamaanDari alam aku belajar arti bersyukur Dari alam aku belajar tentang cintaCinta dalam dekapan  ukhuwah, cinta dalam lingkaran  jama’ah, cinta dalam jalan dakwah..

😍
Penulis : Ludiazzuhri, guru SDIT AL Fatih Depok

Bromo 16-18 Agustus 2019

Leave a Reply