Ketika mendengar kata backpacker tentu yang terlintas di benak kita adalah perjalanan keluar
kota atau luar negeri dengan anggaran terbatas. Otomatis akomodasi yang didapat adalah
gaya minimalis seperti losmen atau hotel kapsul. Moda transportasi publik, serta makan
jajanan yang terjangkau. Peminat bacpacker biasanya (meskipun tidak melulu) anak muda.
Kenapa? Karena dibutuhkan stamina yang kuat serta cara berpikir asyik untuk menikmati
gaya perjalanan ini. Sempitnya kamar dan lelahnya kaki tidak jadi masalah, yang penting
petualangannya, Kawan!
Klien saya kali ini adalah dua remaja beranjak dewasa yang haus akan petualangan, ditemani
oleh ayah bundanya yang sudah tidak muda lagi. Hmm.. Tentunya butuh beberapa kompromi
agar kedua anak muda ini tetap puas berpetualang dan ayah bunda tetap merasa nyaman.
Untuk itu, perjalanan saya kali ini, dirancang tidak full backpacker. Yuk! Simak catatan
perjalanan kami berikut ini!

Hari pertama setelah sampai di Tokyo, saya menjemput mereka di bandara dan menuju
Stasiun Asakusa menggunakan Rapid Train. Di Asakusa, kami menuju hotel yang berjarak
beberapa blok dari stasiun. Mengingat kondisi ayah bunda yang kelelahan serta koper yang
cukup berat, kami memilih naik taksi, alih-alih berjalan kaki. Sesampai di hotel kami
menitipkan koper sehingga kami bebas naik menyusuri Asakusa Kaminarimon dan naik
Kereta ke Tokyo Sky Tree.
Di hari kedua, kami naik kereta menuju Harajuku. Pertama, kami menyentuh area bersejarah
Jepang dengan mengunjungi Kuil Meiji Jingu yang dibangun untuk menghormati kaisar
Meiji. Setelah itu, kami berjalan kaki ke Takeshita Street dimana anak muda berkumpul untuk
sekedar nongkrong memamerkan gaya berpakaian ala Harajuku. Terdapat juga toko pernak
pernik, jajanan, serta fashion yang terjangkau untuk anak muda. Di ujung jalan, kami
berbelok ke Omotesando dimana terdapat toko-toko barang mewah dan bermerk. Di sini ayah
bunda berbelanja tas kulit cantik serta jaket unik. Setelah itu, kami ke Masjid Tokyo Camii
yang terkenal akan interior khas Turkinya yang cantik. Setelah itu kami menuju Shibuya,
tempat patung Hachiko yang setia menunggu kedatangan majikannya. Kami juga menikmati
sensasi menyeberang Shibuya Crossing Road, penyeberangan tersibuk di dunia.

Pada hari ketiga, kami menuju Tokyo Disney Sea untuk bermain di wahana yang ditawarkan
di area ini. Di sini ayah bunda cukup berani menerima tantangan anak-anaknya untuk
menaiki roller coaster. Adrenalin yang menyala membuat kami merasa lebih muda seperti
usia 20-an. Turun dari roller coaster dan menjejakkan kaki ke tanah, kami kembali
diingatkan bahwa kami sudah tidak muda karena kepala yang cenat cenut. Kami
memutuskan untuk beristirahat sebentar dan keluar dari area ini. Karena malam belum larut,
kami memutuskan untk pergi ke area Shinjuku untuk makan malam kare halal di Coco
Restaurant. Rasanya enak dan tidak eneg, karena rasa pedasnya. Ada beberapa level pedas
yang bisa dipilih sesuai kekuatan lidah kita.
Pada hari keempat, kami melanjutkan perjalanan selama dua jam ke area Fuji dengan
menggunakan mobil sewaan. Sopir yang ramah asli dari Bandung membuat perjalanan
semakin nyaman. Destinasi pertama kami adalah Fujiten Ski Resort. Dari namanya saja, tentu
bisa ditebak bahwa kami ke sana untuk main ski. Well, bukan kami semua, melainkan anak
muda dan ayahnya yang juga berjiwa muda. Kami ibu-ibu cukup senang berswafoto di tengah
hamparan salju sambil ngobrol cantik.

Setelah itu, kami ke Iyashi No Sato dimana keluarga ini menikmati pengalaman mengenakan
kimono tardisional di desa tradisional. Wah! Serasa seperti Oshin! Di desa ini, rasa dingin
kami diredakan dengan menyeruput kuah soba panas yang muslim friendly. Oishi! Dari sisni,
kami melanjutkan perjalanan ke Gotemba premium outlet yang terdiri atas 250 toko dari
merk terkemuka dunia. Sst.. Banyak diskon di area ini lho.

Pada hari kelima, kami melanjutkan perjalanan ke Kyoto dengan Shinkansen. Tujuan pertama
kami adalah Kiyomizudera, kuil besar yang termasuk dalam warisan budaya UNESCO.
Sepanjang jalan, sang ibu cukup takjub dengan toko pernak pernik yang menawarkan
souvenir tradisional khas Tokyo yang cantik namun terjangkau. Ya! Kyoto adalah kota
budaya yang khas dan memuat Anda jatuh cinta! Saat makan malam, kami pergi ke Ayam Ya
Restaurant untuk makan ramen yang pedasnya nendang!
Pada hari keenam kami memutuskan untuk sarapan di pasar Nishiki di area Kuromon.
Memang pasar ini tidak sebesar Pasar Ikan Tsukji di Tokyo, tetapi kami tetap menikmati
sensasi belanja tradisional saat menyusuri lorongnya. Kami ditawari tester nasi hangat dengan
taburan wijen bumbu pedas, tester senbe dan tester telur gulung. Wah.. bisa kenyang makan
tester nih!

Setelah sarapan, kami menuju kebun Bambu Arashiyama yang ikonik dengan jajaran
bambunya yang rapi. Setelah itu, kami menuju ke restoran halal Yoshiya. Di sini terdapat
menu non halal dan halal, tinggal minta saja ke pegawainya maka Anda akan diberikan buku
menu halal. Anda tidak perlu ragu akan kehalalannya karena restoran ini mengantongi
sertifikat halal. Tidak seperti restoran Jepang yang umumnya minimalis, restoran ini memiliki
area luas dan desain interior semi formal dan pencahayaan yang cantik. Kehadiran perabot
bergaya rustic membuat suasana menjadi santai. Keluar dari restoran, hujan deras
menyambut kami, sehingga kami memilih naik taksi kembali ke stasiun. Di malam hari kami
menikmati suasana di area Gion dan makan malam di Gion Naritaya Halal Restaurant.

Pada hari ketujuh, kami menuju Fushimi Inari Taisha yang dengan deretan gerbang merahnya
yang instagramable. Setelah puas berfoto di deretan gerbang pertama, ayah bunda
memutuskan kembali ke bawah untuk beristirahat, sementara saya menemani anak muda
yang tergoda untuk menyusuri gerbang hingga puncak bukit. Perjalanan kami cukup
melelahkan dan membuat berkeringat sehingga kami harus melepas jaket beberapa kali,
padahal hari itu adalah musim dingin. Akan tetapi semua kelelahan terbayarkan dengan
pemandangan cantik dari puncak bukit. It was worth it!

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Osaka dengan shinkansen. Di Osaka kami makan
malam lalu beristirahat.
Pada hari kedelapan, kami megunjungi Kastil Osaka yang terkenal di era Shogun. Setelah itu
kami makan siang di restoran mungil bernama Halal Matsuri. Jangan tertipu dengan tampilan
mungilnya, restauran ini menyajikan menu yang beragam seperti taiyaki, takoyaki, sushi,
ramen, hingga makanan kering dan bumbu halal untuk oleh-oleh. Seperti namanya
Matsuri=Festival, restoran ini bagaikan festival yang menyuguhkan parade makanan halal!
Setelah makan siang, kami berbelanja di daerah Shinsaibashi dan Dotombori. Hampir semua
oleh-oleh yang kami cari tersedia di area ini dengan range harga yang beragam. Jangan takut
kemalaman, karena semakin malam semakin ramai. Ditambah lampu dari Glico Man dan
lampu-lampu lain yang menambah semarak suasana malam.

Keesokan harinya kami menuju bandara untuk pulang ke tanah air. Sebelum boarding, kami
sempatkan sarapan di restoran Za Udon halal di lantai 1 terminal ini. Setelah itu kami siap
untuk terbang. Wah.. Liburan yang seru! Cukup untuk recharge energi sebelum beraktivitas
kembali . Sayonara Japan!
TL AMR

