Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ath Thabrani).Materi kali ini berhubungan dengan bagaimana mewujudkan mimpi di ujung pengharapan. Pengalaman visitasi ke negeri Sakura. Masyaallah, pasti menantang. Saya cerita dulu, ya.

Saya bersama Bu Aning berencana backpacker-an. Cari tiket murah dan mencari tumpangan akomodasi dari teman yang tinggal di sana. Menantang untuk sebagian orang termasuk saya, tapi tidak nyaman buat orang yang terbiasa bepergian mandiri berbiaya sendiri.Ternyata mimpi itu dapat terwujud. Bersama beberapa rekan, kami singgahi Tokyo dan “ubeg-ubeg” kotanya yang padat dan teratur. Bertemu dengan komunitas mahasiswa Indonesia, mendengarkan ceritanya yang bikin iri buat berbagi hal yang sama. Bertemu dengan komunitas muslim dari masjid-masjid yang menerima kami dengan tangan terbuka. Indahnya persaudaraan muslim. Belum sampai di situ, taman-taman kota yang tertata rapi. Demikian juga museumnya, menginspirasi orang mendatanginya. Terasa menjadi warga kelas atas karena dihargai dengan sewajarnya. Padahal ke mana-mana, kami naik kendaraan umum, tetapi rasanya nyaman sekali.

Cerita sesungguhnya adalah niat saya ke Jepang jauh sebelum tahun 2007. Baru tahun itu dan tahun berikutnya, saat usia saya nyaris 35 tahun kesempatan hadir. Sayang, beasiswa Monbukagakusho kedua kali pun gagal di tahun itu. Sepertinya gagal bermimpi ke Jepang. Ternyata memang tantangannya tidak mudah.Namun, saya tidak pernah menyerah. Tidak lantas mengubur dalam-dalam impian itu, tetapi menerbangkannya untuk mencari peluang cara lain. Dilalah kesempatan itu ada.

Masyaallah, lewat Bu Aning, ( mantan ) guru Bahasa Jepang di SMK Negeri 57 yang mengajak dan menyemangati saya. Kebetulan beliau sudah berkali-kali ke Jepang dengan tujuan berkunjung. Pengalaman menjelajahnya terbantu dengan kemampuannya menguasai bahasa Jepang. Alhamdulillah akhirnya saya berhasil mengajak teman-teman untuk turut serta karena akomodasi di Jepang juga sudah dibantu rekan yang luar biasa bersimpati dengan niat kami sehingga menyiapkan kediamannya untuk disinggahi. Beruntung, bukan?

Eksplor seputar Kota Tokyo rasanya memang tidak akan puas selama sepekan. Banyak spot menawan dan memberi informasi baru yang belum kami kunjungi. Pengalaman ini secara garis besar sangat berkesan. Tidak “nyasar” mengikuti transportasi yang ramah walau orang Jepang sendiri terlihat sangat kaku. Ya, pengalaman itu yang mengantarkan saya dan Bu Aning berani membawa anak-anak Alix, SMP Islam Al Ikhlas yang berada di wilayah Cipete. Anak-anak yang terbiasa punya destinasi ke luar negeri. Jepang menjadi tempat singgah pertama mereka melalui project kami selama delapan hari melakukan immersion.

Kegiatan bermula dari Bandara Soekarno Hatta, Japan Airlines mengantar kami mengudara tiba di Narita, Chiba, yang terletak di sebelah Tokyo. Akses transportasinya bagus. Perjalanan langsung menuju Asakusa 40 menit sebelum pusat Kota Tokyo. Sebelum masuk hotel, cari-cari makanan halal. Ketemu ramen halal Asakusa. Wow, rasanya Jepang sekali. Kedai kecil yang padat pengunjung, terutama muslim. Karena mencari makanan halal harus benar-benar diperhatikan. Harus hati-hati. Salah masuk rumah makan disuguhkan daging babi. Pukul 14.00 waktu setempat check in Asakusa Hotel. Kelasnya para manager. Alhamdulillah akhirnya pernah menginap di sini. Kamarnya serba minimalis, tetapi di-design sangat apik. Arsitekturnya sangat rapi. Detail-detail setiap pojoknya diperhatikan. Pintu kamar mandi yang mirip toilet pesawat menjadi pilihan yang tepat. Masih sangat nyaman kok.

Setelah beristirahat sebentar, giliran adaptasi lingkungan di seputar Asakusa Hotel. Mengunjungi Senso Ji Temple, Kaminari Mon Gate, Nakamise Street yang terkenal super sibuk, dan tidak lupa ingin menjajal skytree. Perjalanan dilanjutkan. Mumpung ada di Tokyo lanjut perjalanan ke Odaiba buat mencicipi Takoyaki. Odaiba merupakan distrik di teluk pinggir Kota Tokyo yang tenang dan asyik terutama buat swafoto. Tetap masih adaptasi, jadi pukul 21.00 waktu setempat harus kembali ke hotel. Cuaca menusuk di akhir musim dingin, suhunya antara 2oC-10oC. Saya masih menggunakan jaket tebal. Udara dingin masih berembus dan dapat melukai kulit juga bibir menjadi pecah karena membeku.

Tiba pada petualangan sebenarnya. Setelah bersiap lanjut perjalanan menuju sekolah di Meguro. Perjalanan yang menempuh 30 menitan dan bukan perjalanan macet seperti di Jakarta. Kami singgahi Tokiwa Matsu Gakuen setingkat SMP, sekolah khusus putri, sekolah eksklusif. Kami benar-benar dijamu. Mengikuti kegiatan bersama di sekolah. Siswanya sama saja menurut saya. Ribut dan comel juga. Namun, jika gurunya serius, sudah pasti suasana jadi sunyi. Pulangnya kami sempatkan menjambangi Shibuya Hachiko Statue di Heavy Crossing Road. Jalannya luas sekali. Benar-benar jadi berantakan jika lampu lalu lintas merah. Sesaat kemudian seperti tidak terjadi apa-apa. Kembali tenang. Setelah makan di resto halal, kami putuskan kembali ke hotel.

Hari berikutnya mencoba menjejakkan kaki di Masjid Tokyo Cami. Bertemu dengan brother dari berbagai negara. Wah, benar seperti di negara sendiri. Mereka ramah sekali. Mempersilakan kami mencicipi hidangannya. Tidak banyak yang dieksplor. Kaki saya juga seperti beku. Ototnya perlu di-treatment shower kamar mandi hotel.

Selanjutnya mengunjungi Tokyo University. Bertemu dengan kakak Indonesia yang bercerita di sekretariat pelajar Indonesia. Anak-anak Alix mempersembahkan sebuah tari dari Sumatra untuk melepas rindu para mahasiswa terhadap kampung halaman. Siang harinya menuju Takushoku University Islamic Research Center. Bertemu dengan profesornya dan banyak bercerita tentang kajian-kajian Islam. Luar biasa. Terakhir eksplor Tokyo Tower. Tidak terlalu tinggi, tapi lumayan ngeri juga. Ada sisi lantai kaca yang tembus pandang.

Esok harinya naik Shinkansen, kereta super cepat menuju Kota Nagoya. Kereta yang bergerak pada kecepatan maksimum 300 kph (186 mph), tetapi getarannya tidak terasa masih ikuti prokes. Kereta berjalan sangat halus sehingga 4 jam 48 menit dirasa belum ada sejam perjalanan. Di Nagoya eksplor Museum Toyota dan berbelanja peralatan teknik yang tidak ditemui di kota lain.Hari berikutnya sesinya bersenang-senang. Menuju Disney Sea. Mencari kemeriahan bersama anak-anak muda. Banyak permainan di area seluas 49 ha sangat memuaskan jalan-jalan. Luar biasa capenya buat saya. Anak-anak tidak tampak letih.

Akhir perjalanan menuju Bandara Haneda. Siap kembali ke Indonesia dengan membawa sejuta kenangan.Terkait cerita pengalaman di atas, saya ingin menyemangati bahwa jangan pernah putus harapan pada apapun. Kadang Allah akan langsung memberikan kebaikan kita. Kadang Allah tahan sampai waktunya yang tepat diberikan. Kadang diberikan nanti di akhirat. Manis kedengarannya. Seringkali kita yng tergesa-gesa agar harapan ingin disegerakan.

Bermimpilah setinggi bintang-bintang, niscaya pun jatuh pada bintang yang lainnya.

Yudha Kurniawan OK

13 April 2022

Penulis 30 buku dengan berbagai penerbit


Tinggalkan Balasan